HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU KALAM, FILSAFAT,
FIQIH, DAN ILMU JIWA
A. HUBUNGAN ILMU TASAWUF DENGAN ILMU KALAM, FILSAFAT, FIQIH, DAN ILMU JIWA
Ilmu Kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan
pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan.
Pada Ilmu Kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan
manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara itu, pada Ilmu
Tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan
keyakinan dan ketenteraman, serta upaya untuk menyelamatkan diri dari
kemunafikan.
B. HUBUNGAN ILMU TASAWUF DENGAN ILMU FIQIH
Ilmu tasawuf mampu menumbuhkan kesiapan manusia untuk melaksanakan hukum-hukum
fiqih. Alsannya, pelaksanaan kewajiban manusia tidak akan sempurna tanpa
perjalanan rohaniyah.
C. KETERKAITAN ILMU TASAWUF DENGAN FILSAFAT
Ilmu tasawuf yang berkembang di dunia islam tidak dapat dinafikan dari
sumbangan pemikiran kefilsafatan. Ini dapat dilihat, misalnya, dalam
kajian-kajian tasawuf yang berbicara tentang jiwa. Secara jujur harus diakui
bahwa terminologi jiwa dan roh itu sendiri sesungguhnya terminologi yang banyak
dikaji dalam pemikiran-pemikiran filsafat. Sederetan intelektual muslim ternama
juga banyak mengkaji tentang jiwa dan roh, diantaranya adalah Al-Kindi,
Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali.
D. HUBUNGAN ILMU TASAWUF DENGAN ILMU JIWA (TRANSPERSONAL PSIKOLOGI)
Dalam pandangan akum sufi, akhlak dan sifat seseorang bergantung pada jenis
jiwa yang berkuasa atas dirinya. Jika yang berkuasa dalam tubuhnya adalah
nafsu-nafsu hewani atau nabati, perilaku yang tampiladalah perilaku hewani atau
nabati pula. Sebaliknya, jika yang berkuasa adalah nafsu insani, yang tampil
adalah perilaku insani pula.
Kalau para sufi menekankan unsur kejiwaan dalam konsepsi tentang manusia,
berarti bahwa hakikat, zat, dan inti kehidupan manusia terletak pada unsur
spiritual atau kejiwaannya. Ditekankannya unsur jiwa dalam konsepsi tasawuf
tidaklah berarti bahwa para sufi mengabaikan unsur jasmani manusia. Unsur ini
juga mereka pentingkan karena rohani sangat memerlukan jasmani dalam
melaksanakan kewajibannya beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah-Nya di
bumi. seseorang tidak akan mungkin sampai kepada Allah dan beramal dengan baik
dan sempurna selama jasmaninya tidak sehat. Kehidupan jasmani yang sehat
merupakan jalan kepada kehidupan rohani yang baik. Pandangan kaum sufi mengenai
jiwa berhubungan erat dengan ilmu kesehatan mental, yang merupakan bagian dari
ilmu jiwa (Psikologi).
TASAWUF AKHLAKI
Menurut Amin Syukur, ada dua aliran dalam tasawuf. Pertama, aliran tasawuf
sunni, yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan Al-Qur’an dan
Al-Hadits secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingkat
rohaniah) mereka pada dua sumber tersebut. Kedua, aliran tasawuf falsafi, yaitu
tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat kompromi, dalam pemakaian
term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf.
Berikut ini adalah contoh sufi beserta ajarannya yang termasuk dalam aliran
tasawuf akhlaki.
A. HASAN AL-BASHRI
1. Riwayat Hidup
Hasan Al-Bashri, yang nama lengkapnya Abu Sa’id Al-Hasan bin Yasar, adalah
seorang zahid yang sangat masyhur di kalangan tabi’in. Ia dilahirkan di Madinah
pada tahun 21 H (632 M), dan wafat pada hari Kamis bulan Rajab tanggal 10 tahun
110 H (728 M).
2. Ajaran-ajaran Tasawufnya
Berkaitan dengan ajaran tasawuf Hasan Al-Bashri, bahwa tasawuf Hasan Al-Bashri
didasari oleh kebesaran jiwa akan kekurangan dan kelalaian dirinya yang
mendasari tasawufnya itu. Sikap itu senada dengan sabda Nabi yang berbunyi,
“Orang beriman yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah
laksana orang duduk di bawah sebuah gunung besar yang senantiasa merasa takut gunung
itu akan menimpa dirinya”.
B. AL-MUHASIBI: PANDANGAN TASAWUFNYA
Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (w.243 H) menempuh jalan tasawuf karena hendak
keluar dari keraguan yang dihadapinya. Al-Muhasibi memandang bahwa jalan
keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan
kewajiban-kewajiban, wara’, dan meneladani Rasulullah.
1. Pandangan Al-Muhasibi tentang Ma’rifat
Al-Muhasibi berbicara pula tentang ma’rifat. Al-Muhasibi mengatakan bahwa
ma’rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan
sunnah.
Al-Muhasibi menjelaskan tahapan-tahapan ma’rifat sebagai berikut:
a. Taat. Awal dari kecintaan kepada Allah adalah taat, yaitu wujud konkret
ketaatan hamba kepada Allah. Mengekspresikan kecintaan kepada Allah hanya
dengan ungkapan-ungkapan, tanpa pengalaman merupakan kepalsuan semata.
b. Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati
merupakan tahap ma’rifat selanjutnya.
c. Pada tahap ketiga ini Allah menyingkap khazanah-khazanah keilmuan dan
kegaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap diatas. Ia akan
menyaksikan berbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah.
d. Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dengan fana’
yang menyebabkan baqa’.
2. Pandangan Al-Muhasibi tentang Khauf dan Raja’.
Dalam pandangan Al-Muhasibi, khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan)
menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwa.
Khauf dan raja’, menurut Al-Muhasibi, dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang
teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Raja’ dalam pandangan Al-Muhasibi,
seharusnya melahirkan amal saleh, berhak mengharap pahala dari Allah.
C. AL-QUSYAIRI
1. Riwayat Hidup Al-Qusyairi.
Nama lengkap Al-Qusyairi adalah ‘Abdul Karim bin Hawazin, lahir tahun 376 di
Istiwa. Disinilah ia bertemu dengan gurunya, Abu ‘Ali Ad-Daqqaq, seorang sufi
terkenal. Sang guru menyarankan untuk mengawasinya dengan mempelajari syari’at.
Karena itu, Al-Qusyairi lalu mempelajari fiqih pada seorang faqih, Abu Bakr Muhammad
bin Abu Bakr Ath-Thusi (w. 405 H). Dari situlah Al-Qusyairi berhasil menguasai
doktrin Ahlus Sunah wal Jama’ah yang dikembangkan Al-Asy’ari dan muridnya.
Al-Qusyairi adalah pembela paling tangguh dari aliran tersebut dalam menentang
doktrin aliran-aliran Mu’tazilah, Karamiyyah, Mujassamah, dan Syi’ah.
Menurut Ibnu Khallikan, Al-Qusyairi adalah seorang yang mampu mengompromikan
syari’at dengan akidah. Al-Qusyairi wafat tahun 465 H.
2. Ajaran-ajaran Tasawuf Al-Qusyairi
Seandainya karya Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, dikaji secara
mendalam, akan tampak jelas bagaimana Al-Qusyairi cenderung mengembalikan
tasawuf ke atas landasan doktrin Ahlus Sunnah.
Tampak jelas bahwa pengembalian arah tasawuf, menurut Al-Qusyairi, dapat
dilakukan dengan merujuknya pada doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dengan
mengikuti para sufi sunni abad ketiga dan keempat Hijriyah sebagaimana
diriwayatkannya dalam Ar-Risalah.
Dalam hal ini jelas bahwa Al-Qusyairi adalah pembuka jalan bagi kedatangan
Al-Ghazali, yang beralifiasi pada aliran yang sama, yaitu Al-Asy’ariyyah, yang
nantinya merujuk pada gagasan Al-Qusyairi itu serta menempuh jalan yang dilalui
Al-Muhasibi maupun Al-Junaidi, serta melancarkan kritik keras terhadap para
sufi yang terkenal dengan ungkapan yang ganjil.
D. AL-GHAZALI
1. Biografi Singkat Al-Ghazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us
Ath-Thusi Asy-Syafi’i Al-Ghazali. Al-Ghazali dilahirkan di Ghazlah, Iran pada
tahun 450 H/1058 M, tiga tahun setelah kaum Saljuk mengambil alih kekuasaan di
Baghdad.
Menurut Sulaiman Dunya, karangan Al-Ghazali mencapai 300 buah. Ia mulai
mengarang pada usia 25 tahun, sewaktu masih di Naisabur. Ia mempergunakan waktu
30 tahun untuk mengarang. Dengan demikian, setiap tahun ia menghasilkan karya
tidak kurang dari 10 buah kitab besar dan kecil. Karya-karya itu menunjukkan
bahwa Al-Ghazali merupakan seorang pemikir kelas dunia yang sangat berpengaruh.
2. Ajaran Tasawuf Al-Ghazali
Di dalam tasawufnya, Al-Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan
Al-Qur’an dan sunnah Nabi yang ditambah dengan doktrin Ahlus Sunnah wal
Jama’ah. Dari paham tasawufnya itu, ia menjauhkan semua kecenderungan gnostis
yang mempengaruhi para filosof Islam, sekte Ismailiyah, aliran Syiah, Ikhwan
Ash-Shafa, dan lain-lain.
Corak tasawuf Al-Ghazali adalah psiko-moral yang mengutamakan pendidikan moral.
Hal ini dapat dilihat dalam karya-karyanya, seperti Ihya ‘Ulum Al-Din, Minhaj
Al-‘Abidin, Mizan Al-Amal, Bidayah Al-Hidayah, Mi’raj Al-Salikin, Ayyuhal
Walad.
Al-Ghazali menjadikan tasawuf sebagai sarana untuk berolah rasa dan berolah
jiwa, hingga sampai pada ma’rifat yang membantu menciptakan (sa’adah)
a. Pandangan Al-Ghazali tentang Ma’rifat
Menurut Al-Ghazali, sebagaimana telah dijelaskan oleh Harun Nasution, ma’rifat
adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan
tentang segala yang ada. Alat memperoleh ma’rifat bersandar pada sir, qalb, dan
roh.
b. Pandangan Al-Ghazali tentang As-Sa’adah
Menurut Al-Ghazali, kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi adalah melihat
Allah (ru’yatullah). Di dalam kitab Kimiya’ As-Sa’adah, ia menjelaskan bahwa
As-Sa’adah (kebahagiaan) itu sesuai dengan watak (tabiat). Sedangkan watak
sesuatu itu sesuai dengan ciptaannya, nikmatnya mata terletak ketika melihat
gambar yang bagus dan indah. Kenikmatan qalb –sebagai alat memperoleh ma’rifat-
terletak ketika melihat Allah. Melihat Allah merupakan kenikmatan paling agung
dan mulia.
Kelezatan dan kenikmatan dunia bergantung pada nafsu dan akan hilang setelah
manusia mati, sedangkan kelezatan dan kenikmatan melihat Tuhan bergantung pada
qalb dan tidak akan hilang walaupun manusia sudah mati karena qalb dapat keluar
dari kegelapan menuju cahaya terang.
TASAWUF IRFANI
A. RABIAH AL-ADAWIAH
1. Biografi Singkat Rabi’ah Al-Adawiyah.
Nama lengkap Rabi’ah Al-Adawiyah adalah Rabi’ah bin Ismail Al- Al-Bashriyah
Al-Qaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H/ 713 M atau 99 H/ 717 M
disuatu perkampungan dekat Bashrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185
H/ 801 M.
Ia dilahirkan sebagai putri keempat dari keluarga yang sangat miskin. Kedua
orang tuanya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Konon pada saat terjadinya
bencana perang di Bashrah, ia dilarikan penjahat dan dijual kepada keluarga
Atik dari suku Qais Banu Adwah. Dari sini ia dikenal dengan Al-Qaisiyah dan
Al-Adawiyah. Pada keluarga ini ia bekerja keras, namun kemudian dibebaskan
karena tuannya melihat cahaya yang memancar di atas kepala Rabi’ah dan
menerangi seluruh ruangan rumah pada saat ia sedang beribadah. Setelah
dimerdekakan tuannya, Rabi’ah hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai
seorang zahidah dan sufiah.
2. Ajaran Tasawuf Rabi’ah Al-Adawiyah
Rabi’ah Al-Adawiyah dalam perkembangan mistisisme dalam Islam tercatat sebagai
peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Rabi’ah pula yang
pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang
berdasarkan permintaan ganti dari Allah.
Untuk memperjelas pengertian Al-hubb yang diajukan Rani’ah yaitu hub Al-hawa
dan hub anta ahl lahu. Hub Al-hawa adalah rasa cinta yang timbul dari
nikmat-nikmat dan kebaikan yang diberikan Allah. Hub Al-hawa yang ditunjukkan
Rabi’ah ini tidak berubah-ubah, tidak bertambah dan berkurang karena bertambah
dan berkurangnya nikmat. Hal ini karena Rabi’ah tidak memandang nikmat itu
sendiri, tetapi sesuatu yang ada dibalik nikmat tersebut. Adapun Al-hubb anta
ahl lahu adalah cinta yang tidak didorong kesenangan indrawi, tetapi didorong
Dzat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa.
Kewajiban-kewajiban yang dijalankan Rabi’ah timbul karena perasaan cinta kepada
Dzat yang dicintai.
B. DZU AL-NUN AL-MISHRI
1. Riwayat Hidup Dzun Al-Mishri
Nama lengkapnya Abu Al-Faidh Tsauban bin Ibrahim. Ia dilahirkan di Ikhmim pada
tahun 180 H/ 796 M dan wafat pada tahun 246 H/ 856 M. Jilukan Dzu An-Nun
diberikan kepadanya sehubungan dengan berbagai kekeramatannya yang Allah
berikan kepadanya. Diantaranya ia pernah mengeluarkan seorang anak dari perut
buaya di Sungai Nil dalam keadaan selamat atas permintaan ibu dari anak
tersebut.
2. Ajaran-ajaran Tasawuf Dzu Al-Mishri
Pengertian Ma’rifat Menurut Dzu Al-Nun Al-Mishri, Ma’rifat sebenarnya adalah
musyahadah qalbiyah (penyaksian hati), sebab ma’rifat merupakan fitrah dalam
hati manusia sejak azali. Al-Mishri menjelaskan bahwa ma’rifat kepada Allah
tidak dapat ditempuh melalui pendekatan akal dan pembuktian-pembuktian, tetapi
dengan jalan ma’rifat batin, yakni Tuhan menyinari hati manusia dan menjaganya
dari kecemasan, sehingga semua yang ada di dunia ini tidak mempunyai arti lagi
3. Pandangan Dzu An-Nun Al-Mishri tentang Maqamat dan Ahwal.
Berkenaan dengan maqam at-tawakal, Al-Mishri mendefinisikannya sebagai berhenti
memikirkan diri sendiri dan merasa memiliki daya dan kekuatan. Intinya adalah
penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah disertai perasaan tidak memiliki
kekuatan.
Berkenaan dengan ahwal, Al-Mishri menjadikan mahabbah (cinta kepada Tuhan)
sebagai urutan pertama dari empat ruang lingkup pembahasan tentang tasawuf.
Menurutnya tanda-tanda orang-orang yang mencintai Allah adalah mengikuti
kekasih-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW.
C. ABU YAZID AL-BUSTAMI
1. Riayat Hidup Abu Yazid Al-Bustami
Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan Al-Bustami, lahir
di daerah Bustam (Persia) tahun 874-947 M. nama kecilnya adalah Taifur.
Dalam menjalani kehidupan zuhud selama 13 tahun, Abu Yazid mengembara di
gurun-gurun pasir di Syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit
sekali.
2. Ajaran Tasawuf Abu Yazid
Ajaran tasawuf terpenting Abu Yazid adalah fana’ dan baqa’. Dari segi bahasa
fana’ berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap. Dalam istilah
tasawuf, fana’ adakalanya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur.
Pencapaian Abu Yazid ke tahap fana’ dicapai setelah meninggalkan segala
keinginan selain keinginan kepada Allah.
Adapun baqa’ berasal dari kata baqiya. Arti dari segi bahasa adalah tetap,
sedangkan berdasarkan istilah tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji
kepada Allah. Paham baqa’ tidak dapat dipisahkan dengan paham fana’ karena
keduanya merupakan paham yang berpasangan. Jika seorang sufi sedang mengalami
fana’, ketika itu juga ia sedang menjalani baqa’.
D. ABU MANSHUR AL-HALLAJ
1. Riwayat Hidup Al-Hallaj
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Mughist Al-Husain bin Manshur bin Muhammad
Al-Baidhawi, lahir di Baida, Persia pada tahun 244 H/ 855 M. Ia tumbuh dewasa
di kota Wasith, dekat Baghdad. Pada usia 16 tahun, ia belajar pada seorang sufi
terkenal saat itu, yaitu Sahl bin Abdullah At-Tusturi di Ahwaz.
Ucapan Al-Hallaj “ana al-haqq” yang tidak dapat dimaafkan para ulama fiqih dan
dianggap sebagai ucapan kemurtadan, dijadikan alasan untuk menangkapnya dan
memenjarakannya setelah dipenjara selama delapan tahun, Al-Hajj dihukum
gantung, ia dicambuk seribu kali tanpa mengaduh kesakitan, lalu dipenggal
kepalanya. Namun sebelum dipancung, ia meminta shalat dua rakaat. Setelah
selesai shalat, kaki dan tangannya dipotong, badannya digulung dalam tikar
bambu lalu dibakar dan abunya dibuang ke sungai, sedangkan kepalanya dibawa ke Khurasan
untuk dipertontonkan. Dan akhirnya Al-Hajj wafat pada tahun 922 M.
2. Ajaran Tasawuf Al-Hajj
Diantara ajaran tasawuf Al-Hajj yang paling terkenal adalah Al-hulul dan wahdat
Asy-syuhud. Kata Al-hulul berdasarkan pengertian bahasa, berarti menempati suatu
tempat. Adapun menurut istilah ilmu tasawuf, Al-hulul berarti paham yang
mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil
tempat di dalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu
dilenyapkan.
Persatuan antara Tuhan dengan manusia dapat terjadi dengan mengambil bentuk
hulul. Dengan demikian, agar dapat bersatu, manusia harus terlebih dahulu
menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya. Setelah sifat-sifat kemanusiaannya
hilang dan hanya tinggal sifat ketuhanan yang ada dalam dirinya, disitulah
Tuhan mengambil tempat dalam dirinya, dan ketika itu roh Tuhan dan roh manusia bersatu
dalam tubuh manusia.
TASAWUF FALSAFI
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi
mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaki, tasawuf
falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya serta berasal
dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.
Menurut At-Taftazani, tasawuf falsafi muncul dengan jelas dalam khazanah Iaslam
sejak abad ke-6 H meskipun para tokohnya baru dikenal seabad kemudian. Menurut
beliau, ciri umum tasawuf tasawuf adalah ajarannya yang samar-samar akibat
banyaknya istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memahami
ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak dapat dipandang sebagai
filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (dzauq), tetapi tidak
dapat pula dikategorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena
ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada
pantheisme.
Di antara tokoh-tokoh tasawuf falsafi ini adalah Ibn Arabi, Al-jilli, Ibn
Sab’in, dan Ibn’Masarrah.
A. IBN ARABI
1. Biografi Singkat
Nama lengkap Ibn Arabi adalah Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdullah
Ath-Tha’i Al-Haitami. Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol, tahun
560 H, dari keluarga berpangkat, hartawan, dan ilmuwan. Namanya biasa disebut
“Al” untuk membedakan dengan Abu Bakar Ibn Al-‘Arabi, seorang qadhi dari Sevilla
yang wafat tahun 543 H. Di Seville (Seville), ia mempelajari Al-Qur’an, hadist
serta fiqih pada sejumlah murid seorang fakih Andalusia terkenal, yakni Ibn
Hamz Al-Zhahiri.
Ketika berusia 30 tahun, ia mulai berkelana ke berbagai kawasan Andalusia dan kawasan
Islam bagian barat. Di antara gurunya tercatat nama-nama, seperti Abu Madyan
Al-Ghauts Al-Talimsari dan Yasmin Musyaniyah(seorang wali dari kalangan
wanita). Diantara karya monumentalnya adalah Al-futuhat Al-Makiyyah yang
ditulis pada tahun 1201 tatkala ia sedang menunaikan ibadah haji.
2. Ajaran-ajaran tasawufnya.
Ajaran sentral Ibn ‘Ibn Arabi adalah tentang wahdat Al-wujud (kesatuan wujud)
namun ajaran ini berasal dari Ibnu Taimiyah. Menurut Ibnu Taimiyah, wahdat
Al-wujud adalah penyamaan tuhan dengan alam. Menurutnya, orang-orang yang
mempunyai paham wahdat Al-wujud mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya
satu dan wajib Al-wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib Al-wujud yang
dimiliki oleh khaliq adalah juga mumkin Al-wujud yang dimiliki oleh makhluk.
Selain itu, orang-orang yang mempunyai paham wahdat Al-wujud itu juga
mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud tuhan, tidak ada kelainan dan
tidak ada perbedaan.
Menurut Ibn ‘Arabi, wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah, dan Allah
adalah hakikat alam. Tidak ada perbedaan antara wujud yang qadim yang disebut
khalik dengan wujud yang baru yang disebut makhluki. Tidak ada perbedaan antara
‘abid (menyembah) dengan ma’bud (yang disembah). Antara yang menyembah dan yang
disembah adalah satu. Perbedaan itu hanya pada bentuk dan ragam dari hakikat
yang satu.
Menurut Ibn ‘Arabi, tuhan adalah pencipta alam semesta. Adapun proses
penciptaannya adalah sebagai berikut :
1. Tajalli Dzat tuhan dalam bentuk a’yan tsabitah
2. Tanuzul Dzat tuhan dari alam ma’ani ke alam ta’ayyunat (realitas-realitas
rohaniah), yaitu alam arwah yang mujarrad.
3. Tanazul kepada realitas-realitas nafsiah, yaitu alam nafsiah berpikir.
4. Tanazul tuhan dalam bentuk ide materi yang bukan materi, yaitu alam mitsal
(ide) atau khayal.
5. Alam materi, yaitu alam inderawi.
B. AL-JILLI
1. Riwayat hidup
Nama lengkapnya adalah ‘Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jilli. Ia lahir pada tahun
1365 M. Di Jilan (Gilan), sebuah provinsi di sebelah selatan kasfia dan wafat
pada tahun 1417 M. Beliau pernah belajar tasawuf di bawah bimbingan Abdul Qadir
A-Jailani, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadiriyah yang sangat terkenal.
Di samping itu, berguru pula pada Syekh Syarafuddin Isma’il bin Ibrahim
Al-Jabarti di Zabid (yaman) pada tahun 1393-1403 M.
2. Ajaran Tasawuf Al-Jilli
Ajaran terpentingnya adalah paham Insan kamil(manusia sempurna), menurutnya
insan kamil adalah nuskhah atau copy tuhan. Al-jilli mengemukakan bahwa
perumpamaan hubungan tuhan dengan insan kamil bagaikan cermin. Seseorang tidak
dapat melihat bentuk dirinya kecuali dengan cermin itu. Demikian pula dengan
insan kamil, ia tidak dapat melihat dirinya, kecuali dengan cermin nama tuhan,
sebagaimana tuhan tidak dapat melihat diri-Nya, kecuali melalui cermin insan
kamil.
Berkaitan dengan insan kamil, Al jilli merumuskan beberapa maqam yang harus
dilalui seorang sufi. Dalam istilahnya, maqam itu disebut Al-
Martabah(jenjang/tingkatan). Martabah-martabahnya sebagai berikut :
1. Islam
2. Iman
3. Ash-Shalah
4. Ihsan
5. Syahadah
6. Shidduqiyah
7. Qurbah
C. IBN SAB’IN
1. Riwayat hidup
Nama lengkap Ibn Sab’in adalah ‘Abdul Haqq bin Ibrahim Muhammad bin Nashr,
seorang sufi yang juga filosof dari Andalusia. Beliau dipanggil Ibn Sab’in dn
digelari Quthbuddin. Terkadang dikenal pula dengan Abu Muhammad. Beliau di
lahirkan tahun 614 H (1217-1218 M) dikawasan Murcia dan meninggal tahun 611 H.
Beliau berguru pada Ibn Dihaq. Dan beliau meninggalkan karya sebanyak 41 buah.
2. Ajaran tasawufnya
Beliau adalah seorang pengasas sebuah paham dalam kalangan tasawuf filosofis,
yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak.
Gagasan esensial pahamnya sederhana saja, yaitu wujud adalah satu alias wujud
Allah semata. Wujud-wujud ,lainnya hanyalah wujud yang satu itu sendiri.
D. IBN MUSARRAH
1. Riwayat hidup
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin Masarrah (269-319 M). Beliau
adalah seorang sufi dari Andalusia.
2. Ajaran tasawufnya
Ajarannya adalah sebagai berikut :
a. Jalan menuju keselamatan adalah menyucikan jiwa, zuhud, dan mahabbah yang
merupakan asal dari semua kejadian.
b. Dengan penakwilan ala philun atau aliran Isma’iliyyah terhadap ayat-ayat Al
qur’an, Ibn Masarrah menolak adanya kebangkitan jasmani.
c. Siksa neraka bukanlah dalam bentuk yang hakekat.